Minggu, 04 November 2012

SAP IMA


SATUAN ACARA PENYULUHAN
       INFARK MIOKARD AKUT
(IMA)

Picture1.jpg












A5C
KELOMPOK 5

1.     NI MADE DESY PARIANI                                         11.321.1146
2



Program Studi S1 Keperawatan
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI
 2010/2011











SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan                  : Sistem Kardiovaskular
Sub Pokok Bahasan           : Penyakit Infark Miokard Akut (IMA)
Sasaran                              : Pasien dan keluarga pasien
Hari/ Tanggal                     : Senin  29 Oktober 2012
Waktu                                : pkl. 15.00 – selesai
Tempat                               : Ruang Nakula Rs. Sanjiwani Gianyar


                I.     PENGORGANISASIAN
Ketua           : Ni Made Desy Pariani
Sekretaris     : Ni Komang Dewik Mariani
Moderator   : I Putu Ery Suarbawa
Fasilitator    : I Kadek Galang Rambu
Penyaji         : Ni Made Desy Pariani

             II.     LATAR BELAKANG
Aspek kesehatan adalah suatu kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi. Semakin berkembangnya zaman dan meningkatnya tingkat ekonomi, pengetahuan serta status social seseorang pada umumnya berbanding lurus dengan tingkat kesehatannyan, namun tidak sedikit kasus yang menyimpang dari kasus kesehatan akibat prilaku yang kurang cerdas. Salah satunya adalah penyakit Infark Miokard Akut (IMA). Infark Miokard Akut (IMA) merupakan salah satu diagnosis rawat inap tersering di negara maju. Laju mortalitas awal (30 hari) pada IMA adalh 30% dengan lebih dari separuh kematian pasien sebelum mencapai rumah sakit. Walaupun laju mortalitas menurun sebesar 30% selama 2 dekade terakhir, sekitar 1 dari 25 pasien yang tetap hidup pada perawatan awal, meninggal pada tahun pertama perawatan setelah IMA.
Ruang Nakula RS. Sanjiwani merupakan ruangan khusus penyakit infeksius jauntung dan paru. Ruangan ini sebagian besar dihuni oleh pasien kelas III / JKBM dimana pada umumnya masyarakat kalangan menengah kebawah dengan tingkat pendidikan tidak tinggi serta akses informasi yang terbatas.
          III.     TUJUAN UMUM
Setelah diadakan penyuluhan, masyarakat diharapkan mampu memahami tentang penyakit Infark Miokard Akut (IMA)

          IV.     TUJUAN KHUSUS
Setelah dilakukan tindakan penyuluhan :
1.      80% peserta dapat memahami tentang penyakit Infark Miokard Akut (IMA).
2.      80% peserta dapat menyebutkan etiologi serta faktor predisposisi penyakit Infark Miokard Akut (IMA).
3.      80% peserta dapat menyebutkan tanda dan gejala penyakit Infark Miokard Akut (IMA).
4.      80% peserta dapat memahami dampak dari Infark Miokard Akut (IMA).
5.      80% peserta dapat mengetahui cara mencegah Infark Miokard Akut (IMA)


             V.     METODE
Ceramah, diskusi/ Tanya jawab.

          VI.     MEDIA
Leaflet.
LCD
Laptop

       VII.     PROSES PELAKSANAAN
No
Kegiatan
Respon Pasien/ Keluarga
Waktu
1.
Pendahuluan
a.    Memberi salam
b.   Menyampaikan pokok bahasan
c.    Menyampaikan tujuan
d.   Melakukan apersepsi

Menjawab salam
Menyimak

Menyimak

Menyimak
3 menit
2.
Isi
Penyampaian materi tentang:
a.   Definisi Infark Miokard Akut (IMA)
b.   Etiologi dan faktor predisposisi Infark Miokard Akut (IMA)
c.   Tanda dan gejala Infark Miokard Akut (IMA)
d.  Dampak infark miokard akut
e.   Cara pencegahan Infark Miokard Akut (IMA)



Menyimak

12 menit
3.
Penutup
a.   Diskusi
b.   Kesimpulan
c.   Evaluasi
d.  Memberi salam penutup

Aktif  bertanya
Memperhatikan
Menjawab pertanyaan
Menjawab salam
5 menit







    VIII.     SETTING TEMPAT


 



                                    









 


                                                            


















 




Keterangan :
a.             : Dosen
b.            : Moderator
c.             : Penyaji
d.            : Fasilitator
e.             : pasien

f.             : Keluarga pasien
g.            : Laptop
h.            :LCD
i.              : toilet

          IX.     EVALUASI
1.  Evaluasi Proses
a.  Tempat bisa digunakan dengan baik sesuai rencana.
b. Peserta bersedia mengikuti kegiatan yang telah direncanakan.
2.  Evaluasi Hasil
a.  80%  peserta dapat menjelaskan definisi dari penyakit Infark Miokard Akut (IMA).
b.      80% peserta dapat menyebutkan etiologi serta faktor predisposisi penyakit Infark Miokard Akut (IMA).
c.  70% peserta dapat menyebutkan tanda dan gejala penyakit Infark Miokard Akut (IMA).
d. 90% peserta dapat menjelaskan dampak dari penyakit Infark Miokard Akut (IMA).
e.   80% peserta mengetahui cara pencegahan penykit Infark Miokard Akut (IMA

             X.     REFERENSI
1.      Brunner and Sudarth. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Volume 1. Jakarta : EGC
2.      Heni Rokhaeni, Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Edisi Pertama  Jakarta, Bidang Diklat Pusat Kesehatan Jantung Dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita; 2002
3.      Herdmen, T. Heather. 2012. DiagnosisnKeperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2012-2014.  Jakarta: EGC.
4.      Kasuari, Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan Pendekatan Patofisiology, Magelang, Poltekes Semarang PSIK Magelang, 2002
5.      Marilynn E Doengoes. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC
6.      Sandra M. Nettina , Pedoman Praktik Keperawatan, Jakarta, EGC, 2002

             XI.   ISI MATERI
1.      Definisi
Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.
2.      Etiologi
1. Suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh 3 faktor :
a)    Faktor pembuluh darah :
1)   Aterosklerosis.
2)   Spasme
3)   Arteritis
b)   Faktor sirkulasi :
1)   Hipotensi
2)   Stenosos aurta
3)   Insufisiensi
c)    Faktor darah :
1)  Anemia
2)  Hipoksemia
3)  polisitemia
2.    Curah jantung yang meningkat :
1)   Aktifitas berlebihan
2)   Emosi
3)   Makan terlalu banyak
4)   Hypertiroidisme
3.    Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada :
1.   Kerusakan miocard
2.   Hypertropimiocard
3.   Hypertensi diastolic
3.      Faktor Predisposisi
1.    Faktor resiko biologis yang tidak dapat diubah :
a.    Usia lebih dari 40 tahun
b.    Jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah menopause
c.    Hereditas
d.   Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam.
2.    Faktor resiko yang dapat diubah :
a.    Mayor :
1)   Hiperlipidemia
2)   Hipertensi
3)   Merokok
4)   Diabetes
5)   Obesitas
6)   Diet tinggi lemak jenuh, kalori
b.    Minor:
1)   Inaktifitas fisik
2)   Pola kepribadian tipe A (emosional, agresif, ambisius, kompetitif).
3)   Stress psikologis berlebihan.

4.      Gejala  klinis

1.    Nyeri :

a.    Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak mereda, biasanya diatas region sternal bawah dan abdomen bagian atas, ini merupakan gejala utama.
b.   Keparahan nyeri dapat meningkat secaara menetap sampai nyeri tidak tertahankan lagi.
c.    Nyeri tersebut sangat sakit, seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri).
d.   Nyeri mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional), menetap selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan istirahat atau nitrogliserin (NTG).
e.    Nyeri dapat menjalar ke arah rahang, tangan dan leher.
f.    Nyeri sering disertai dengan sesak nafas, pucat, dingin, diaforesis berat, pening atau kepala terasa melayang dan mual muntah.
g.   Pasien dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena neuropati yang menyertai diabetes dapat mengganggu neuroreseptor (mengumpulkan pengalaman nyeri).
2.    Laboratorium
Pemeriksaan Enzim jantung :
a.    CPK-MB/CPK : Isoenzim yang ditemukan  pada otot jantung  meningkat antara  4-6 jam, memuncak dalam 12-24 jam,  kembali normal dalam 36-48 jam.
b.   LDH/HBDH: Meningkat dalam  12-24 jam dam memakan  waktu lama untuk kembali normal
c.    AST/SGOT: Meningkat ( kurang nyata/khusus ) terjadi dalam 6-12 jam, memuncak dalam 24 jam, kembali normal dalam 3 atau 4  hari
3.    EKG
Perubahan EKG yang terjadi pada fase awal  adanya  gelombang T tinggi dan simetris. Setelah  ini terdapat elevasi segmen ST. Perubahan yang terjadi kemudian  ialah adanya  gelombang Q/QS yang menandakan adanya nekrosis.
Skor nyeri menurut White :
0= tidak mengalami nyeri
1= nyeri pada satu sisi tanpa menggangu aktifitas
2= nyeri lebih pada satu tempat dan mengakibatkan terganggunya aktifitas, mislnya kesulitan bangun dari tempat tidur, sulit menekuk kepala dan lainnya.
5.    Pencegahan
a.    Membiasakan makan dan minuman sehat serta menurunkan frekuensi makan makanan siap saji, soft drink/bersoda.
b.    Olahraga dan beraktivitas yang teratur
c.    Tidak merokok
d.   tidak mengonsumsi alcohol





Tidak ada komentar:

Posting Komentar