Minggu, 04 November 2012

gagal Napas akut


BAB II
PEMBAHASAN

A.    DEFINISI
Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien dengan paru normal secara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronchitis kronik, emfisema, dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batubara). Paien mengalami toleransi terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagal nafas akut biasanya paru kembali ke keadaan asalnya.
Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuat dimana terjadi obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak di bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia, dan hiperkapnia mempunyai kemampuan menekan pusat pernapasan. Sehingga pernapasan menjadi lambat dan dangkal. Pada periode postoperatif dengan anestesi bisa terjadi pernapasan tidak adekuat karena terdapat agen yang menekan pernapasan dengan efek yang dikeluarkan atau dengan meningkatkan efek dan analgetik opiood. Pnemonia atau dengan penyakit paru-paru  dapat mengarah ke gagal nafas akut.

B.     EPIDEMILOGI

C.    ETIOLOGI
1.      Depresi Sistem saraf pusat 
Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yangmenngendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla) sehinggapernafasan lambat dan dangkal.
2.      Kelainan neurologis primer 
Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat pernafasanmenjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf spinal ke reseptorpada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan medulla spinalis, otot-ototpernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi pada pernapasan akansangatmempengaruhiventilasi.
3.      Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks
Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi paru.Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit pleura atau traumadan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas
4.      Trauma
Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas. Kecelakaan yangmengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari hidung dan mulut dapatmnegarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi pernapasan. Hemothoraks,pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan mungkin meyebabkan gagal nafas.Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar.
5.      Penyakit akut paru
Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia diakibatkanoleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang bersifat asam. Asmabronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah beberapa kondisi lain yangmenyebabkan gagal nafas

D.    FAKTOR PREDISPOSISI
E.     PATOFISIOLOGI
                 
F.     KLASIFIKASI
Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafaskronik dimana masing masing mempunyai pengertian yang bebrbeda. Gagalnafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada pasien yang parunyanormalsecara struktural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul.Sedangkan gagal nafas kronik adalah terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema dan penyakit paru hitam(penyakit penambang batubara).Pasien mengalalmi toleransi terhadaphipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagalnafas akut biasanya paru-paru kembali kekeasaan asalnya. Pada gagal nafaskronik struktur paru alami kerusakan yang ireversibel.Indikator gagal nafas telah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital,frekuensi penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mn


G.    TANDA DAN GEJALA KLINIS
1.      Tanda
a.       Gagal nafas total
1)      liran udara di mulut, hidung tidak dapat didengar/dirasakan.
2)      Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladan sela iga ada pengembangandada pada inspirasi
3)      Adanya kesulitasn inflasi parudalam usaha memberikan ventilasi buatan
b.      Gagal nafas parsial
1)       Terdenganr suara nafas tambahan gargling, snoring, Growing dan whizzing
2)      Ada retraksi dada
2.      Gejala
1)      Hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran (PCO2)
2)      Hipoksemia yaitu takikardia, gelisah, berkeringat atau sianosis (PO2 menurun

H.    PEMERIKSAAN FISIK
I.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      Pemerikasan gas-gas darah arteri
 HipoksemiaRingan : PaO2 < 80 mmHgSedang : PaO2 < 60 mmHgBerat : PaO2 < 40 mmHgPemeriksaan gas darah arteri penting untuk menentukan adanya asidosis respiratorik danalkalosis respiratorik,serta untuk mengetahui apakah klien mengalami asidosis metabolik serta alkalosis metabolik atau keduanya pada klien yang sudah lama mengalami gagalnafas.Selain itu, pemeriksaan ini jugasangat penting untuk mengetahui oksigenasi sertaevaluasi kemajuan therapi atau pengobatan yang diberikan pada klien.
2.       Pemeriksaan rontgen dada
Berdasarkan pada foto thoraks PA/AP dan lateral serta fluoroskopi akan banyak data yangdiperoleh seperti terjadinya hiperinflasi,pneumothoraks,efusi pleura,dan tumor paru.
3.       Pengukuran fungsi paru
 Penggunaan spirometer dapat membuat kita mengetahui ada tidaknya gangguan obstruksiparu.
4.       EKG
 Adanya hipertensi pulmonal dapa dilihat pada EKG yang ditandai dengan perubahangelombang P meninggi di sadapan II,III,dan AVF,serta jantung yang mengalami hipertropiventrikel kanan. Iskemia dan aritmia jantung sering dijumpai pada gangguan ventilasi danoksigenasi.
5.       Pemeriksaan Sputum
Yang perlu diperhatikan ialah warna,bau,dan konsistensi.Jika perlu dilakukan kultur dan ujikepekaan terhadap kuman penyebab.Jika dijumpai ada garis-garis darah pada sputum (bloodstrekaed),kemungkinan disebabkan oleh brinkitis,bronkiektasis,pneumonia,TB paru,dankeganasan.Sputum yang berwarna merah jambu dan berbuih kemungkinan disebaban udemparu.Untuk sputum yang mengandung banyak sekali darah,lebih sering merupakan tanda dariTB paru atau adanya keganasan paru

J.      KOMPLIKASI
1.      Sindrom distres pernapasan dewasa (SDPD)
2.      PPOM dan ashma
K.    THERAPY ATAU TINDAKAN KEPERAWATAN
1.         Bronkodilator untuk memperlebar jalan napas dan meningkatkan ruang udara (misal .,albuteral)
2.         Antibiotik untuk menurunkan infeksi
3.         Kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi membran alveolar (misalnya prednison, vanseril)
4.         Terapi intravena (koloid atau kristaloid, tergantung pada analisis kimia darah)


L.     PENATALAKSANAAN
1.      Suplemen oksigen
2.      Intubasi endotrakeal dengan ventilasi mekanis
3.      Farmakoterapi
a.       Bronkodilator untuk memperlebar jalan napas dan meningkatkan ruang udara (misal .,albuteral)
b.      Antibiotik untuk menurunkan infeksi
c.       Kortikosteroid untuk mengurangi inflamasi membran alveolar (misalnya prednison, vanseril)
d. Terapi intravena (koloid atau kristaloid, tergantung pada analisis kimia darah)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar