Minggu, 04 November 2012

DERMATITIS MEDIKA MENTHOSA


BAB I
PEMBAHASAN

A.    Konsep Dasar Penyakit

1.      Definisi
Dermatitis medikamentosa merupakan lesi eritema dengan atau tanpa vesikula, berbatas tegas, dapat soliter atau multipel. Terutama pada bibir, glans penis, telapak tangan atau kaki. Umumnya karena reaksi dari obat-obatan yang masuk kedalam tubuh melalui mulut, suntikan atau anal. Keluhan utama pada penyakit biasanya gatal dan suhu badan meninggi. Gejala dapat akut, subakut atau kronik. Untuk lokalisasinya bisa mengenai seluruh tubuh, timbul plak hiperpigmentasi tidak tegas.
.
2.      Epidemiologi
Dermatitis medikamentosa dapat diderita oleh semua jenis umur, tidak tergantung pada jenis kelamin, tidak bergantung pada ras, bangsa, serta iklim, semua orang berpotensi mengalami pada obat-obat tertentu. Pada rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan lainya dermatitis medikamentosa efek akut tidak banyak terjadi karena umumnya dilakukan tes alergi terlebih dahulu untuk mengetahui efek dari obat tersebut.

3.      Etiologi
a.    Obat-obatan
b.    Zat-zat kimia

4.      Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi tersebut dapat berupa faktor fisik seperti dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan tertawa, menangis, berlari, olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan. Faktor lingkungan juga dapat memicu terjadinya dermatitis medikamentosa.



5.      Gejala  klinis
Pada umumnya penderita dermatitis akan meneluh gatal, dimana gejala klinis lainnya bergantung pada stradium penyakitnya.
a.     Stadium akut : kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dansudasi sehingga tampak basah.
b.    Stadium subakut : eritema, dan edema berkurang, eksudat mongering menjadi kusta.
c.     Stadium kronis : lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenefikasi.
Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis sejak awal memberi gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis. Mata gatal, bersin-bersin, mengeluarkan ingus, batuk, gejala nafas sesak sampai terjadi serangan asma. Sering pula muncul keluhan mual, muntah dan diare.


6.      Pemeriksaan fisik
a.       Kulit    : Seluruh kulit harus diperhatikan apakah ada peradangan kronik seperti bekas garukan terutama daerah pipi dan lipatan - lipatan kulit daerah fleksor.
b.      Mata    : Diperiksa terhadap hyperemia, edema, secret mata yang berlebihan dan katarak yang sering dihubungkan dengan penyakit atopi ataupun pengobatan kortikosteroid.
c.       Telinga : Telinga tengah dapat merupakan penyulut rhinitis alergi.
d.      Hidung            : Pada pemeriksaan hidung di bidang alergi ada beberapa tanda yang sudah baku, walaupun tidak patognomonik misalnya :
1)        Allergic salute      : pasien menggunakan telapak tangannya menggosok ujung hidungnya kearah atas untuk menghilangkan rasa gatal dan melonggarkan sumbatan.
2)        Allergic crease      : garis melintang akibat lipatan kulit ujung hidung.
3)        Allergic shiners : daerah di bawah palpebra inferior menjadi gelap dan bengkak.
4)        Allergic facies      : terdiri dari pernafasan mulut, allergic shiners dan kelainan gigi geligi.
5)        Mulut dan osofaring pada rhinitis allergic, sering terlihat mukosa orofaring kemerahan, edema atau keduanya.
6)        Dada         : Diperiksa secara inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultrasi baik terhadap organ paru maupun jantung

7.      Pemeriksaan diagnostic
a.    Pemeriksaan laboratorium
1)        Jumlah leukosit : Biasanya pada penyakit alergi jumlsh leukosit normal, kecuali kalau disertai alergi.
2)        Sel eusenofil pada secret, konjungtiva, hidung dan sputum.
3)        Serum lgE total.: Meningkatnya serum ini menyokong adanya penyakit alergi, tetapi hanya didapatkan pada sekitar 60 – 80 % pasien.
4)        lgE spesifik : Maksudnya mengukur lgE terhadap allergen tertentu. Ini bisa diperiksa secara invitro dengan cara RAST ( Radio Allergo Sorbent Test ) keuntungan pemeriksaan ini dibandingkan test kulit adalah resiko pada pasien tidak ada, hasilnya kuantitatif, tidak dipengaruhi obat. Sedangakan kerugiannya mahal, hasil tidak segera dapat dibaca dapat terjadi positif palsu atau negative palsu.
b.      Pemeriksaan radiologi: Dengan foto dada, untuk melihat komplikasi asma dan foto sinus paranasal untuk melihat komplikasi rhinitis, bila ada kecurigaan rhinitis akut maupun kronik maka diperlukan pemeriksaan scanning sinus.

8.      Prognosis
Umumnya baik.

9.      Therapy/ Pengobatan
Ada beberapa cara untuk mengobati reaksi alergi. Pilihan tentang pengobatan dan   bagaimana cara pemberian disesuaikan dengan gejala yang dirasakan.
a.    Untuk jenis alergi biasa, seperti reaksi terhadap debu atau bulu binatang, pengobatan yang dilakukan disarankan adalah:
1)      Prescription antihistamines, seperti cetirizine (Zyrtec), fexofenadine (Allerga), dan Ioratadine (Claritin), dapat mengurangi gejala tanpa menyebabkan rasa kantuk. Pengobatan ini dilakukan sesaat si penderita mengalami reaksi alergi. Jangka waktu pemakaian hanya dalam satu hari, 24 jam.
2)      Nasal corticosteroid semprot. Cara pengobatan ini dimasukkan ke dalam mulut atau melalui injeksi. Bekerja cukup ampuh dan aman dalam penggunaan, pengobatan ini tidak menyebabkan efek samping. Alat semprot bisa digunakan beberapa hari untuk meredakan reaksi alergi, dan harus dipakai setiap hari. Contoh: fluticasone (Flonase), mometasone (Nasonex), dan triamcinolone (Nasacort).
b.      Untuk reaksi alergi spesifik. Beberapa jenis pengobatan yang dapat dilakukan untuk menekan gejala yang mengikuti :
1)        Epinephrine
2)        Antihistamines, seperti diphenhydramine (Benadryl)
3)        Corticosteroids
c.       Pengobatan lain yang bisa diberikan jika dibutuhkan :
1)      Pada orang tertentu, cromolyn sodium semprot mencegah alergi rhinitis, inflamasi di hidung.
2)      Decongestan dapat menghilangkan ingus pada sinus. Tersedia dalam bentuk cairan yang dimasukkan ke mulut dan semprot. Digunakan hanya beberapa hari, namun terjadi efek samping seperti tekanan darah yang meningkat, detak jantung yang menguat, dan gemetaran.

10.  Penatalaksanaan
Hentikan pemakaian obat-obat yang diduga menyebabkan dermatitis medikamentosa(Aspirin, Salisilat, Sulfonamid, Tetrasiklin, Penisilin), Salep kortikosteroid, Antihistamin, kortikosteroid

B.     Konsep Dasar asuhan Keperawatan
1.   Pengkajian
a.    Identitas dan riwayat kesehatan pasien
b.    Riwayat keperawatan: Tanyakan tentang pola kebersihan individu sehari-hari, sarana dan prasarana yang dimiliki, serta factor-faktor yang mempengaruhi personal hygine individu, baik factor pendukung maupun factor penghambat.
c.    Data subjektif :pasien melaporkan: Ada peningkatan suhu tubuh, kemerahan, rasa terbakar, edema / pembengkakan, adanya keluhan gatal-gatal
d.   Data objektif : Terlihat adanya lesi polimorf, timbul eritema, timbul edema pada kulit yang longgar misalnya : muka (terutama palpebra dan bibir ), infiltrasi biasanya terdiri atas papul, disertai bula / pustule, terlihat erosi / ekskoriasi dengan krusta, ada pengelupasan kulit,  fisura.

2.      Diagnosa Keperawatan
a. Resiko kerusakan kulit b.d terpapar allergen d.d adanya fisura, krusta, disertai bula / pustule, ada pengelupasan kulit, ada edema, kemerahan, rasa terbakar.
b. Perubahan rasa nyaman b.d pruritus ditandai dengan pasien melaporkan gatal, pasien terlihat menggaruk-garuk area alergi.
c. Gangguan integritas kulit b.d kekeringan pada kulit ditandai dengan kulit terlihat kusam dan kering.

3.      Rencana Tindakan keperawatan
NO
DX
TUJUAN DAN KRETERIA HASIL
INTERVENSI
RASIONAL
1
Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan kekeringan pada kulit berkurang dengan kriteria hasil: klien akan mempertahankan kulit agar mempunyai hidrasi yang baik . dan turunnya peradangan, ditandai dengan :
-     Mengungkapkan peningkatan  kenyamanan kulit
-     Berkurangnya derajat pengelupasan kulit
-     Berkurangnnya kemerahan
-     Berkurangnya lecet karena garukan
-     Penyembuhan area kulit yang telah rusak
-     Mandi paling tidak sekali sehari selama 15 – 20 menit.

-     Segera oleskan salep atau krim yang telah diresepkan setelah mandi. Mandi lebih sering jika tanda dan gejala meningkat


-     Gunakan air hangat jangan panas.




-     Gunakan sabun yang mengandung pelembab atau sabun untuk kulit sensitive Hindari mandi busa





-     Oleskan/berikan salep atau krim yang telah diresepkan 2 atau tiga kali per hari.
-   Dengan mandi air akan meresap dalam saturasi kulit.

-   Pengolesan krim pelembab selama 2 – 4 menit setelah mandi untuk mencegah penguapan air dari kulit.

-   Air panas menyebabkan vasodilatasi yang akan meningkatkan pruritus.

-   Sabun yang mengandung pelembab lebih sedikit kandungan alkalin dan tidak membuat kulit kering, sabun kering dapat meningkatkan keluhan.

-    Salep atau krim akan melembabkan kulit.
2
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x24 jam diharapkan paparan allergen berkurang dengan kriteria hasil: klien akan mempertahankan integritas kulit, ditandai dengan :
-          Menghindari alergen
-     Ajari klien menghindari atau menurunkan paparan terhadap alergen yang telah diketahui.
-     Gunakan penyejuk ruangan (AC) di rumah atau di tempat kerja, bila memungkinkan.
-     Menghindari alergen akan menurunkan respon alergi.

-     AC membantu menurunkan paparan terhadap beberapa alergen yang ada di lingkungan.
3
Setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan Pruritus berkurang dengan kriteria hasil: klien menunjukkan berkurangnya pruritus, ditandai dengan:
-  Berkurangnya lecet akibat garukan
-  Klien tidur nyenyak tanpa terganggu rasa gatal
-  Klien mengungkapkan adanya peningkatan rasa nyaman
-       Cuci semua pakaian sebelum digunakan untuk menghilangkan formaldehid dan bahan kimia lain serta hindari menggunakan pelembut pakaian buatan pabrik.
-       Gunakan deterjen ringan dan bilas pakaian untuk memastikan sudah tidak ada sabun yang tertinggal.
-        Pruritus sering disebabkan oleh dampak iritan atau allergen dari bahan kimia atau komponen pelembut pakaian.

-        Bahan yang tertinggal (deterjen) pada pencucian pakaian dapat menyebabkan iritasi.
                                  

4.      Implementasi
Implementasi merupakan tindakan perawat yang dilakukan sesuai dengan intervensi.
5.       Evaluasi Proses
6.      Evaluasi hasil
S : Subyektif, merupakan segala yang dikatakan pasien
O : Obyektif, merupakan segala sesuatu yang kita lihat dari pasien
A : Assessment, merupakan implementasi yang sudah tercapai atau belum
P : Planning, merupakan rencana tindakan selanjutnya.












DAFTAR PUSTAKA
-          Brunner & Suddart. (1996), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta.
-          Carpenito, L.J. (2001) Handbook of Nursing Diagnosis (Buku terjemahan), Edisi.8. EGC, Jakarta.
-          Doenges. ( 2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, EGC, Jakarta.
-          Mansjoer, A. (2001), Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1, Edisi.3, Media Aesculapius FKUI, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar