Rabu, 03 Juli 2013

askep hemoroid



KONSEP DASAR PENYAKIT

A.  DEFINISI
Hemoroid adalah dilatasi pleksus (anyaman pembuluh darah) vena yang mengitari rectal dan anal. (Tambayong, 2000; 142).
 “Hemorrhoid are dilated varicose veins of the anus and rectum”. Hemoroid adalah dilatasi pembuluh darah vena varicose pada anus dan rectum. (Reeves, 1999; 162)
Hemoroid adalah bagian vena verikosa pada kanalis ani, hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan oleh gangguan aliran balik, banyak terjadi pada usia diatas 25 tahun.( Price dan Wilson, 2006 ).
Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal. Hemoroid internal yaitu hemoroid yang terjadi diatas spingter anal sedangkan yang muncul di spingter anal disebut hemoroid eksternal.( Suzanne C. Smeltzer, 2006 ).
Hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah vena di daerah anus yang berasal dari fleksus hemoroidalis yang merupakan keadaan patologik.( Sjamsuhidayat, R. – Wim de Jong, 2010 ).
Hemoroid adalah suatu pelebaran dari vena – vena di dalam pleksus hemoroidalis. (Arif Mutaqqin, 2010).
Hemoroid atau “wasir” merupakan vena varikosa pada kanalis ani dan dibagi menjadi 2 jenis yaitu, hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media, sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior. Sesuai istilah yang digunakan, hemoroid eksterna timbul di sebelah luar otot sfingter ani, dan hemoroid interna timbul di sebelah atas (atau di sebelah proksimal) sfingter.

B.  ETIOLOGI
1.   Kelainan organis
a.    Serosis hepatic
b.   Trombosis vena porta
c.    Tumor intra-abdominal, terutama pelvis
2.   Idiopatik
a. Herediter: kelemahan pembuluh darah
b.   Anatomi: tak ada katup pada vena porta sehingga darah mudah kembali, tekanan di plexus hemorrhoid akan meningkat.
c.    Gravitasi: banyak berdiri
d.   Tekanan intra abdominal yang meningkat: batuk kronis, mengejan.
e.    Tonus spinter ani lemah
f.    Obstipasi atau konstipasi kronis
g.   Obesitas
h.   Diit rendah serat
Pada wanita hamil faktor yang mempengaruhi timbulnya hemoroid adalah:
a. Tumor intra abdomen menyebabkan gangguan aliran vena daerah pelvis.
b.Kelemahan pembuluh darah waktu hamil kerena pengaruh hormon
c. Mengedan selama partus.
Penyebab lain terjadinya hemoroid antara lain:
a. Terlalu banyak duduk
b.Diare menahun/kronis
c. Kehamilan: disebabkan oleh karena perubahan hormon
d.    Keturunan penderita wasir
e. Hubungan seks tidak lazim (perianal)
f. Penyakit yang membuat penderita mengejan
g. Sembelit/ konstipasi/ obstipasi menahun
h. Penekanan kembali aliran darah vena
i.  Melahirkan
j.  Obesitas
k.Usia lanjut
l.  Batuk berat
m. Mengangkat beban berat
n.Tumor di abdomen/usus proksimal

C.  FAKTOR PREDISPOSISI
Hemoroid timbul karena dilatasi, pembengkakan, atau inflamasi vena hemoroidalis yang disebabkan oleh faktor-faktor risiko/pencetus. Faktor risiko hemoroid antara lain mengejan pada saat buang air besar yang sulit, pola buang air besar yang salah (lebih banyak memakai jamban duduk, terlalu lama duduk di jamban sambil membaca), peningkatan tekanan intra abdomen yang disebabkan oleh tumor (tumor usus, tumor abdomen), kehamilan (disebabkan karena tekanan janin pada abdomen dan perubahan hormonal), usia tua, konstipasi kronik, diare kronik atau diare yang berlebihan, hubungan seks per-anal, kurang minum air, kurang makan makanan berserat (sayur dan buah), kurang olahraga/imobilisasi.

D. PATOFISIOLOGI
Hemoroid timbul karena dilatasi, pembengkakan atau inflamasi vena hemoroidialis yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus. Yang diawali karena sering terjadinya peningkatan intra abdomen dan penekanan vena hemoroid, penekanan tersebut terjadi ketika rectum melebar, lalu terisi oleh suatu yang keras seperti feses yang keras yang disebabkan oleh kurangnya konsumsi serat. Hal ini yang dapat menjadikan sumbatan. Jika sumbatan tersebut berlangsung terus menerus, dapat menyebabkan terjadi pelebaran pada vena hemoroid yang permanen, akibatnya akan terjadi trombosis, distensi, dan perdarahan akan terjadi.
Hemoroid dapat diklasifikasikan atas hemoroid eksterna dan interna. Hemoroid interna dapat dibagi berdasarkan gambaran klinis yaitu derajat 1 apabila terjadi pembesaran hemoroid yang tidak prolaps keluar anus. Hanya dapat dilihat dengan anorektoskop, derajat ke dua pembesaran hemoroid yang prolaps dan menghilang atau masuk sendiri kedalam anus secara spontan, derajat ke tiga pembesaran hemoroid yang prolaps dapat masuk lagi kedalam anus dengan bantuan dorongan jari dan derajat ke empat prolaps hemoroid yang permanen. Rentang dan cenderung mengalami trombosis dan infrak.( Marcellus Simardibrata K. 2009)                                                            
Manisfestasi dari hemoroid yaitu dapat menyebabkan rasa gatal dan nyeri, dan sering menyebabkan perdarahan berwarna merah terang pada saat defekasi. Hemoroid eksternal dihubungkan dengan nyeri hebat akibat inflamasi dan edema yang sering disebabkan oleh trombosis (pembekuan darah dalam hemoroid). Juga dapat menimbulkan iskemia pada area tersebut dan nekrosis. Dapat juga terjadi konstipasi serta dapat terjadi prolaps setelah banyak duduk atau berdiri lama.
Adapun komplikasi dari hemoroid antara lain terjadinya perdaharan, pada derajat satu darah keluar menetes dan memancar, terjadi trombosis karena hemoroid keluar sehingga lama-lama darah akan membeku dan terjadi trombosis, dan peradangan kalau terjadi lecet karena tekanan vena hemoroid dapat terjadi infeksi dan meradang karena disana banyak kotoran yang ada kuman.

E.  KLASIFIKASI
Berdasarkan letak terjadinya hemoroid dibedakan dalam dua klasifikasi, yaitu  :
1.   Hemoroid Eksterna
   Hemoroid eksterna diklasifikasikan sebagai akut dan kronis. Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma, bentuk ini sering sangat nyeri dan gatal karena ujung – ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemoroid eksterna kronik atau skin tag berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dan jaringan penyambung dan sedikit  pembuluh darah.
2.   Hemoroid Interna
a.     Derajat I       :  terjadi pembesaran hemoroid yang tidak prolaps keluar kanal anus. Hanya dapat dilihat dengan anorektoskop.
b.   Derajat II       :   pembesaran hemoroid yang prolaps dan menghilang atau masuk sendiri ke dalam anus secara spontan setelah selesai BAB.
c.     Derajat III    :  pembesaran hemoroid  yang prolaps dapat masuk lagi ke dalam anus dengan bantuan dorongan jari.
d.   Derajat IV     :    prolaps hemoroid yang permanen, rentan dan cenderung untuk mengalami thrombosis atau infark.

                   
             Gambar 2.1. Hemoroid eksterna               Gambar 2.2. Hemoroid interna

F.   GEJALA KLINIS
1.   Terjadi benjolan – benjolan disekitar dubur setiap kali buang air besar.
2.   Rasa perih atau sakit.
Rasa sakit yang  timbul karena prolaps hemoroid (benjolan tidak dapat kembali) dari anus terjepit karena adanya thrombus.
Prolaps:
a.     Grade I      : prolaps (-), perdarahan (+)
b.   Grade II    : prolaps (+), masuk spontan
c.     Grade III   : prolaps (+), masuk dengan manipul
d.   Grade IV   : prolaps (+), inkarserata
3.   Perdarahan segar disekitar anus dikarenakan adanya ruptur varises.
4.   Perasaan tidak nyaman (duduk terlalu lama dan berjalan tidak kuat lama)
5.   Keluar lendir yang menyebabkan perasaan isi rectum belum keluar semua.
6.   BAB berlendir, timbul karena iritasi mukosa rectum.
7.   Pruritus ani sampai dermatitis, proctitis

G. PEMERIKSAAN FISIK
1.   Kaji tingkat kesadaran (kacau mental, letargi, tidak merespon).
2.   Ukur tanda – tanda vital (Tekanan darah meningkat/menurun, takikardi).
3.   Auskultasi bunyi nafas.
4.   Kaji kulit (pucat, bengkak, dingin).
5.   Kaji terhadap nyeri atau mual.
6.   Abdomen  : nyeri tekan pada abdomen, bisa terjadi konstipasi.
7.   Anus  :  pembesaran pembuluh darah balik (vena) pada anus, terdapat benjolan pada anus, perdarahan. (Engram, 1999;789)

H. KOMPLIKASI
Komplikasi hemoroid yang paling sering terjadi yaitu  :
1.   Perdarahan, dapat sampai anemia.
2.   Trombosis (pembekuan darah dalam hemoroid)
3.   Hemoroidal strangulasi adalah hemoroid yang prolaps dengan suplai darah dihalangi oleh sfingter ani.
4.   Luka dan infeksi

I.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
        Anamnesis harus dikaitkan dengan faktor obstipasi, defekasi yang keras, yang membutuhkan tekanan intraabdominal tinggi (mengejan), juga sering pasien harus duduk berjam-jam di WC, dan dapat disertai rasa nyeri yang merupakan gejala radang.
Hemoroid eksterna dapat dilihat dengan inspeksi, apalagi bila telah terjadi trombosis. Bila hemoroid interna mengalami prolaps, maka tonjolan yang ditutupi epitel penghasil musin akan dapat dilihat pada satu atau beberapa kuadran.
        Selanjutnya secara sistematik dilakukan pemeriksaan dalam rektal secara digital dan dengan anoskopi. Pada pemeriksaan rektal secara digital mungkin tidak ditemukan apa-apa bila masih dalam stadium awal. Pemeriksaan anoskopi dilakukan untuk melihat hemoroid interna yang tidak mengalami penonjolan. Pada pemeriksaan kita tidak boleh mengabaikan pemeriksaan umum karena keadaan ini dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti sindrom hipertensi portal.
        Selain itu pemeriksaan yang bisa dilakukan yaitu :
1.   Pemeriksaan colok dubur
   Pada pemeriksaan colok dubur, hemoroid interna stadium awal tidak dapat diraba sebab tekanan vena di dalamnya tidak terlalu tinggi dan biasanya tidak nyeri. Hemoroid dapat diraba apabila sangat besar. Apabila hemoroid sering prolaps, selaput lendir akan menebal. Trombosis dan fibrosis pada perabaan terasa padat dengan dasar yang lebar. Pemeriksaan colok dubur ini untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rectum.

2.   Pemeriksaan Anoskopi
   Dengan cara ini dapat dilihat hemoroid internus yang tidak menonjol keluar. Anoskop dimasukkan untuk mengamati keempat kuadran. Penderita dalam posisi litotomi. Anoskop dan penyumbatnya dimasukkan dalam anus sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan penderita disuruh bernafas panjang. Hemoroid interna terlihat sebagai struktur vaskuler yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita diminta mengejan sedikit maka ukuran hemoroid akan membesar dan penonjolan atau prolaps akan lebih nyata. Banyaknya benjolan, derajatnya, letak ,besarnya dan keadaan lain dalam anus seperti polip, fissura ani dan tumor ganas harus diperhatikan.

3.   Pemeriksaan proktosigmoidoskopi
   Proktosigmoidoskopi perlu dikerjakan untuk memastikan keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat tinggi, karena hemoroid merupakan keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Faeces harus diperiksa terhadap adanya darah samar.

J.    PENATALAKSANAAN
1.   Farmakologis
a.     Obat yang memperbaiki defekasi.
Terdapat dua macam yaitu :
1)   Suplement Serat (Fiber Suplement)
      Suplemen serat komersial yang banyak dipakai antara lain psylium atau isphaluga Husk (Mulax, Metamucil, Mucofalk) yang berasal dari kulit biji plantago ovate yang dikeringkan dan digiling menjadi bubuk.
2)   Pelicin Tinja (Stool Softener)
Obat yang sering dipakai yaitu laxant atau pencahar (laxadine, dulcolax).
b.Obat Simptomatik
     Bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri, atau kerusakan kulit di daerah anus. Jenis sediaan misalnya Anusol, BoraginolN/S dan faktu. Sediaan yang mengandung kortikosteroid digunakan untuk mengurangi daerah hemoroid atau anus. Contoh obat misalnya Ultraproct, Anusol HC, Scheriproct.
c.     Obat penghenti perdarahan
Perdarahan menandakan adanya luka pada dinding anus atau pecahnya vena hemoroid yang dindingnya tipis. Psyllium, citrus bioflavanoida yang berasal dari jeruk lemon dan paprika berfungsi memperbaiki permeabilitas dinding pembuluh darah.
d.   Obat penyembuh dan pencegah serangan
Menggunakan Ardium 500 mg 3x2 tablet selama 4 hari, lalu 2x2 tablet selama 3 hari. Pengobatan ini dapat memberikan perbaikan terhadap gejalainflamasi, kongesti, edema dan prolaps.

2.   Pembedahan
Terapi bedah dilakukan pada hemoroid derajat III dan IV dengan penyulit prolaps, thrombosis atau hemoroid yang besar dengan perdarahan berulang. Pilihan pembedahan adalah hemoroidektomi secara terbuka, secara tertutup atau secara submukosa. Bila terjadi komplikasi perdarahan, dapat diberikan obat hemostatik seperti asam traneksamat yang terbukti secara bermakna efektif menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan ulang.

3.   Tindakan minimal Invasif
a.     Skleroskopi hemoroid, dilakukan dengan cara menyuntikkan obat langsung kepada benjolan/prolaps hemoroidnya.
b.   Ligasi pita karet
           Hemorhoid dilihat melalui anosop, dan bagian proksimal diatas garis mukokutan dipegang dengan alat.  Pita karet kecil kemudian diselipkan diatas hemorrhoid.  Bagian distal jaringan pada pita karet menjadi nekrotik setelah beberapa hari danm dilepas.  Terjadi fibrosis yang mengakibatkan mukosa anal bawah turun dan melekat pada otot dasar. Meskipun tindakan ini memuaskan beberapa pasien, namun pasien lain merasakan tindakan ini menyebabkan nyeri dan mengakibatkan hemorroid sekunder dan infeksi perianal.
c.     Hemoroidektomi kriosirurgi
Adalah metode untuk menghambat hemorroid dengan cara membekukan jaringan hemorroid selama waktu tertentu sampai timbul nekrosis. Meskipun hal ini kurang menimbulkan nyeri, prosedur ini tidak digunakan dengan luas karena menyebabkan keluarnya rabas yang berbau angat menyengat dan luka yang ditimbulkan lama sembuh.
d.   Laser Nd: YAG
Digunakan dalam mengeksisi hemorroid eksternal.  Tindakan ini cepat dan kurang menimbulkan nyeri.  Hemoragi dan abses jarang menjadi komplikasi pada periode paska operatif.
4.   Tindakan non-operatif
a.     Fotokoagulasi inframerah, diatermi bipolar, terapi laser adalah tekhnik terbaru yang digunakan untuk melekatkan mukosa ke otot yang mendasarinya
b.   Injeksi larutan sklerosan juga efektif untuk hemoroid berukuran kecil dan berdarah. Membantu mencegah prolaps.
5.   Tindakan mandiri pasien sebagai lanjutan
a.     Perbaiki pola hidup (makan dan minum) yaitu perbanyak mengkonsumsi makanan yang mengandung serat (buah dan sayuran) kurang lebih 30 gram/hari, serat selulosa yang tidak dapat diserap selama proses pencernaan makanan dapat merangsang gerak usus agar lebih lancar, selain itu serat selulosa dapat menyimpan air sehingga dapat melunakkan feses. Mengurangi makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam. Menghindari makanan yang sulit dicerna oleh usus. Tidak mengkonsumsi alcohol, kopi, dan minuman bersoda. Perbanyak minum air putih 30 – 40 cc/kg BB/hari.
b.   Penderita hemoroid dianjurkan untuk menjaga kebersihan local daerah anus dengan cara merendam anus dalam air selama 10 – 15 menit tiga kali sehari. Selain itu penderita disarankan untuk tidak terlalu banyak duduk atau tidur, lebih baik banyak berjalan.
c.     Menghindari mengejan terlalu berlebihan selama defekasi.
d.   Menjaga personal hygiene yang baik terutama di daerah anus.




























KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN
1. Riwayat kesehatan:
a.    Apakah ada rasa gatal, terbakar dan nyeri selama defekasi?
b.   Adakah nyeri abdomen?
c.    Apakah terdapat perdarahan dari rektum? Berapa banyak, seberapa sering, apa warnanya?
d.   Adakah mucus atau pus?
e.    Bagaimana pola eliminasi klien? Apakah sering menggunakan laksatif?
2. Riwayat diet:
a.    Bagaimana pola makan klien?
b.   Apakah klien mengkonsumsi makanan yang mengandung serat?
3.  Riwayat pekerjaan:
a.    Apakah klien melakukan pekerjaan yang memerlukan duduk atau berdiri dalam waktu lama?
4.  Aktivitas dan latihan:
a.    Seberapa jumlah latihan dan tingkat aktivitas?
5.  Pengkajian obyektif:
a.    Menginspeksi feses apakah terdapat darah atau mucus dan area perianal akan adanya hemoroid, fisura, iritasi, atau pus.
Dasar Data Pengkajian :
1.   Aktivitas/ Istirahat
Gejala  : Imsomnia karena nyeri. Merasa gelisah dan ansietas. Pembatasan aktivitas / kerja sehubungan dengan efek proses penyakit.
2.   Sirkulasi
Tanda  : Takikardia, Kemerahan, area ekimosis, TD hipotensi.
3.   Integritas Ego
Gejala  : Ansietas, ketakutan, emosi kesal.   
Tanda  : Menolak, perhatian menyempit, depresi.
4.   Eliminasi
Gejala : Tekstur feses keras..
Tanda : Menurunya bising usus, tak ada peristaltik yang dapat dilihat.
5.   Makanan/ Cairan
Gejala : Anoreksia, mual/ muntah, penurunan berat badan, tidak toleran terhadap diet/ sensitif.
Tanda  : Penurunan lemak subkutan/ massa otot. Kelemahan tonus otot dan turgor kulit buruk, membran mukosa pucat.
6.   Hygiene
Tanda : Ketidak mampuan mempertahankan perawatan diri, stomatitis menunjukkan kekurangan vitamin, bau badan.
7.   Nyeri/ Kenyamanan
Gejala : Nyeri/ nyeri tekan pada kuadran kiri bawah. Titik nyeri berpindah, nyeri tekan (artritis). Nyeri mata, foto fobia (iritis).
Tanda : Nyeri tekan abdomen/ distensi.
8.   Keamanan
Gejala : Riwayat lupus eritematosus, anemia hemolitik, vaskulitis, artritis, peningkatan suhu 39,6-40oC.
Tanda : Lesi kulit mungkin ada. Ankilosa spondilitis. Ureitis, konjungtivitis.
9.   Seksualitas
Gejala : Frekuensi menurun/ menghindari aktivitas sosial.
10.  Interaksi Sosial
Gejala  : Masalah hubungan/ peran sehubungan dengan kondisi. Ketidakmampuan aktivitas dalam sosial.
11.  Penyuluhan/ Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga berpenyakit
12.  Pemeriksaan Diagnostik
a.    Contoh feses (pemeriksaan digunakan dalam diagnosa awal dan selama kemajuan   penyakit) : terutama yang mengandung mukosa, darah, pus, dan organisme usus, khususnya entamoba histolitika.
b.   Darah lengkap : dapat menunjukkan anemia hiperkronik
c.    Kadar besi serum : rendah karena kehilangan darah.
d.   Masa protombin : memanjan pada kasus yang berat karena gangguan faktor VII dan X disebabkan karena kekurangan vitamin K.
e.    Prostagsimoidoskopi : memperlihatkan ulkus, edema, hiperemia, dan inflamasi (akibat infeksi sekunder mukosa dan submukosa). Area yang menurun fungsinya dan perdarahan karena nekrosis dan ulkus terjadi pada 85% bagian pada pasien ini.
f.    Elektrolit : penurunan kalium dan magnesium umum pada penyakit berat.
g.   Kadar albumin : penurunan karena kehilangan protein plasma/ gangguan fungsi hati.
h.   Alkali fosfatase : meningkat, juga dengan kolesterol serum dan hipoproteinemia, menunjukkan gangguan fungsi hati.
i.     Trombositosis : dapat terjadi karena proses penyakit inflamasi.
j.     Sitologi dan biopsi rektal : membedakan antara proses infeksi dan karsinoma.
k.   Enema barium : dapat dilakukan setelah pemeriksaan visualisasi dapat dilakukan meskipun jarang dilakukan selama akut, tahap kambuh, karena dapat membuat kondisi eksorsibasi.
l.     Kolonoskopi : mengidentifikasi adesi, perubahan lumen dinding.
m. ESR (Erythrocyte Sedimentation Rate) atau LED (Laju Endap Darah ) : meningkat karena beratnya penyakit.
n.   Sumsum tulang : menurun secara umum pada tipe berat/ setelah inflamasi panjang.

B.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rectal atau anal sekunder akibat penyakit anorektal dan spasme sfingter pada pascaoperatif.
2. Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama eliminasi.
3. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.
4. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan.
 (Smeltzer, 2002; 179) 







C.     INTERVENSI
1. Diagnosa Keperawatan : Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rectal atau anal sekunder akibat penyakit anorektal dan spasme sfingter pada pascaoperatif.
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….x 24 jam nyeri akut yang klien rasakan dapat terkontrol, dengan kriteria hasil :
a.       tidak melaporkan adanya nyeri secara verbal
b.      mengurangi adanya gerakan untuk melindungi bagian tubuh yang nyeri dan terlihat meringis
c.       tekanan darah normal, dan nadi normal

·         Kaji laporan nyeri catat lokasi, lamanya intensitas (skala 0-10) selidiki dan laporkan perubahan karakteristik nyeri

·         Catat petunjuk non verbal seperti gelisah menolak untuk berhati-hati, selidiki perbedaan petunjuk verbal dan non verbal


·         Berikan tindakan nyaman seperti pijatan punggung, ubah posisi


·         Bersihkan area rektal dengan sabun ringan dan air/lap setelah defekasi dan berikan perawatan kulit seperi jeli, minyak
·         Kolaborasi dengan tim gizi dalam memodifikasi diet sesuai dengan kebutuhan misalnya makanan tinggi serat
·         Kolaborasi dalam pemberian obat seperti :
-          Analgesik





-          Anodin supositoria


·      Perubahan pada karakteristik nyeri dapat menunjukkan terjadinya komplikasi seperti perforasi, toksik.
·      Bahasa tubuh/petunjuk nonverbal dapat secara psikologis dan fisiologik dan dapat digunakan pada hubungan petunjuk verbal untuk mengidentifikasi luas/beratnya masalah.
·      Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan kemampuan koping.
·         Melindungi kulit dari asam usus, mencegah ekskoriasi

·         Makanan tinggi serat membantu melembekkan feces sehingga feces mudah dikeluarkan.



·         Nyeri bervariasi dari ringan sampai berat dan perlu penanganan untuk memudahkan istirahat adekuat dan penyembuhan.
·      Merilekskan otot rektal menurunkan nyeri spasme.


2.  Diagnosa Keperawatan : Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama eliminasi.
Tujuan dn KH
Intervensi
Rasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….x 24 jam diharapkan klien tidak mengalami konstipasi, dengan kriteria hasil :
a.   Mendapatkan kembali pola fungsi usus yang normal
b.   Menunjukkan bunyi usus / aktivitas peristaltic aktif
c.    Mempertahankan pola eliminasi biasanya.
·         Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus







·         Anjurkan minum 2000-2500 ml/hari kecuali bila ada kontra indikasi

·         Berikan diet rendah sisa, tinggi serat, lunak sesuai toleransi


·         Kolaborasi dalam pemberian pelunak feses. Anjurkan defekasi sesegera mungkin bila dorongan terjadi
·         Distensi dan hilangnya peristaltik usus merupakan tanda bahwa fungsi defekasi hilang yang kemungkinan berhubungan dengan kehilangan persarafan parasimpati usus besar dengan tiba-tiba.

·         Membantu memperbaiki konsistensi feses bila konstipasi.

·         Makanan rendah sisa tinggi serat membantu memperbaiki konsistensi feses

·         Mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi



3.  Diagnosa Keperawatan :  Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama .... x 24 jam diharapkan rasa cemas pasien dapat diatasi, dengan kriteria hasil :
a.    Pasien mengetahui faktor yang mempengaruhi penyebab ansietas
b.     Pasien menyatakan cemas terhadap penyakitnya berkurang
·         Catat petunjuk prilaku misalnya peka rangsang, gelisah


·         Dorong menyatakan perasaan berikan umpan balik




·         Berikan informasi yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan


·         Kolaboratif dengan dokter dalam memberikan obat-obat sesuai indikasi (obat-obat pemenang)
·         Indikator derajat ansietas misalnya pasien dapat merasa tidak terkontrol (gelisah)

·         Membuat hubungan terapeutik membantu pasien dalam mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress

·         Keterlibatan pasien dalam perencanaan perawatan memberikan rasa kontrol dan membantu menurunkan ansietas.
·         Dapat digunakan untuk menurunkan ansietas dan memudahkan istirahat

4.  Diagnosa Keperawatan  :  Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
Setelah diberikan askep selama ….x 24 jam diharapkan tidak ada tanda – tanda infeksi dengan kriteria hasil :
a.    Tidak terdapat tanda tanda infeksi seperti:
Kalor, dubor, tumor, dolor, dan fungsionalasia
b.   TTV dalam batas normal

·         Pantau tanda-tanda vital, perhatikan peningkatan suhu tubuh


·         Kaji tanda vital dengan sering, catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi, penurunan tekanan nadi, takikardia, demam takipnea




·         Lakukan pencucian tangan yang baik dan perawatan prolaps aseptik. Berikan perawatan paripurna

·         Berikan informasi yang tepat, jujur pada pasien/orang terdekat




·         Kolaborasi dalam memberikan antibiotik sesuai indikasi
·         Adanya peningkatan suhu tubuh adalah karakteristik infeksi.

·         Tanda adanya syok septik, endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi, kehilangan cairan dari sirkulasi dan rendahnya status curah jantung.

·         Menurunkan risiko infeksi (penyebaran bakteri)

·         Pengetahuan tentang kemajuan situasi memberikan dukungan emosi, membantu menurunkan ansietas.

·         Mungkin diberikan secara profilaksi atau menurunkan jumlah organisme (pada infeksi yang telah ada sebelumnya) untuk menurunkan penyebaran dan pertumbuhan bakteri




5.      Diagnosa Keperawatan  : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan.
Tujuan dan KH
Intervensi
Rasional
Setelah diberikan askep selama ….x15  menit diharapkan klien dapat mengetahui penyakit yang dialaminya dengan kriteria hasil :
a.      Mengungkapkan masalah berkurang
b.      Klien mampu menyebutkan penyebab dari hemoroid
c.      Klien mampu mampu menyebutkan hal yang dapat memperburuk penyakitnya
d.     Klien mampu menyebutkan upaya-upaya untuk mencegah timbulnya heromoid kembali
·         Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis, dan kemungkinan efek samping.

·         Berikan penjelasan mengenai penyakit klien meliputi definisi, etiologi, tanda dan gejala, pengobatan serta pencegahan secara akurat.

·        Anjurkan klien untuk menghindari faktor pemicu
·        Anjurkan untuk segera  melaporkan ke pelayanan kesehatan jika tanda dan gejala muncul.
·        Meningkatkan pemahaman dan dapat meningkatkan kerjasama dalam program.
·        Dengan pemahaman terhadap penyakit, etiologi, tanda dan gejala, pengobatan serta pencegahannya akan meminimalkan misinterpretasi informasi.
·        Mengurangi resiko munculnya penyakit.
·        Untuk memaksimalkan tindakan penanganan

D. IMPLEMENTASI
Implementasi atau tindakan dilakukan sesuai rencana tindakan yang telah direncanakan sebelum ke pasien.

E.  EVALUASI
No. Dx
EVALUASI
1.
a.       Tidak melaporkan adanya nyeri secara verbal
b.      Mengurangi adanya gerakan untuk melindungi bagian tubuh yang nyeri dan terlihat meringis
c.       Tekanan darah normal, dan nadi normal
2
a.    Mendapatkan kembali pola fungsi usus yang normal
b.   Menunjukkan bunyi usus / aktivitas peristaltik aktif
c.    Mempertahankan pola eliminasi biasanya.
3
a.       Pasien mengetahui faktor yang mempengaruhi penyebab ansieta.
b.     Pasien menyatakan cemas terhadap penyakitnya berkurang
4
a.       Tidak terdapat tanda tanda infeksi seperti:
kalor, dubor, tumor, dolor, dan fungsionalasia
b.      TTV dalam batas normal
5
a.       Mengungkapkan masalah berkurang
b.      Klien mampu menyebutkan penyebab dari hemoroid
c.       Klien mampu menyebutkan hal yang dapat memperburuk penyakitnya
d.      Klien mampu menyebutkan upaya-upaya untuk mencegah timbulnya hemoroid kembali.


































DAFTAR PUSTAKA

                                                                                            
Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2. Jakarta : EGC

Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC

Nanda International. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012 –2014. Jakarta : EGC

Tambayong, Jan. 2010. Patofisologi untuk Keperawatan. Jakarta : EGC

Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit. Jakarta  : EGC

Sjamsuhidayat R. dan Wim de Jong. 2010. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C. dan Brenda G. Barre. 2006. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddath. Edisi 8. Jakarta : EGC











Tidak ada komentar:

Posting Komentar